RSUD dr. Soeselo - Jl. Dr. Sutomo No. 63, Slawi (0283) 491016, kontak@rsudsoeselo.com

Bagaimana Kita bisa Melihat?

Untuk dapat melihat benda yang ada dihadapan mata kita mengalami beberapa sistem dan proses. Proses yang pertama seperti pelajaran fisika jaman kita SMA, yaitu sistem lensa Cembung. Saat objek didepan lensa Biconvex (Lensa Cembung ganda) maka akan terbentuk bayangan dibelakangnya. Atau bisa disamakan dengan sistem lensa kamera. Saat mata kita melihat objek maka akan terbentuk bayangan didalam mata kita. Bayangan yang terbentuk dari sistem lensa cembung ganda yang dimiliki mata kita akan jatuh di saraf mata yang dinamakan Retina. Proses kedua adalah terjadi di dalam Retina, dinamakan proses Phototransduksi lebih sederhananya proses ini merupakan proses biologikal di dalam retina untuk merubah cahaya atau bayangan yang di terima menjadi sinyal-sinyal elektrik sehingga dapat diteruskan ke proses ketiga yaitu melalui saraf mata optikus (nervus optikus) sinyal elektrik di teruskan ke Otak kita. Kemudian proses ke empat adalah bagaimana otak kita dapat menginterpretasikan dan menyimpulkan objek apa yang sedang kita lihat. Otak kita akan menginterpretasikan sinyal-sinyal elektrik yang diterima tersebut mulai dari bentuk objek, ukuran objek, warna, dan jarak objek.

PROSES I

PROSES II

PROSES III

Proses bagaimana otak dapat menginterpretasikan objek yang kita lihat, bentuk, ukuran, warna, pergerakan dan jarak. Untuk dapat melihat diperlukan keempat proses tersebut, jadi jika proses tersebut terganggu maka penglihatan akan terganggu.

Proses manakah yang terganggu pada kelainan kaca mata?

Proses yang terganggu pada kelainan kaca mata adalah Proses I. Pada kelainan kaca mata Objek yang kita lihat menghasilkan bayangan TIDAK tepat di saraf mata yaitu di RETINA. Mengapa demikian, karena sistem lensa cembung ganda pada mata kita tidak menempatkan bayangan objek tepat di Retina. Secara umum ada tiga hal yang mempengaruhi kelainan kaca mata. Hal ini diakibatkan oleh struktur atau bentuk dari bola mata yang kita miliki:

  1. Bentuk (kurvatura atau kelengkungan) kornea (bagian bening yang ada dbagian hitam bola mata)
  2. Bentuk (Kurvatura atau kelengkungan) Lensa Mata
  3. Panjang aksial (panjang dari bagian depan sampai bagian belakang) bola mata

Kelaianan kaca mata yang beredar di masyarakat sering disebut rabun jauh atau rabun dekat. Atau ada yang menyebut kelainan minus dan plus. Sebenarnya kelainan kaca mata secara medis disebut dengan kelainan refraksi terdiri dari Miopia (kelainan kaca mata yang dibantu dengan kaca mata ber-lensa minus /lensa cekung), Hipermetropia (kelainan kaca mata yang dibantu dengan kaca mata berlensa plus/lensa cembung) dan Astigmatisma (kelainan kaca mata yang dibantu dengan kaca mata berlensa silindris). Ada satu lagi kelainan yang dibantu kaca mata plus namun dikhususkan untuk melihat dekat atau membaca dekat yaitu Presbiopia. Presbiopia (mata tua) merupakan ketidak mampuan mata memfokuskan bayangan pada saat melihat dekat (akomodasi). Secara normal mata akan muncul persbiopia setelah usia 40 tahun.   Mari kita bahas kelainan kaca mata yang berhubungan dengan 3 hal yang telah disebutkan dia atas (kelengkungan kornea, kelengkungan lensa dan panjang aksial mata) yaitu Miopia (Minus), Hipermetropia (Plus), dan Astigmatisma (Silindris).

A. MIOPIA (Kelainan Kaca mata MINUS)

Pada pasien dengan kelainan miopia bayangan yang dihasilkan sistem mata berada di depan retina. Hal ini disebabkan kornea atau lensa terlalu melengkung (kelengkungan tinggi) dibandingkan orang normal atau bola mata terlalu panjang atau lonjong ke arah belakang dibandingkan orang normal. Struktur bola mata yang demikian merupakan pengaruh bawaaan (genetik) atau gaya hidup. Orang-orang yang beraktifitas lebih sering di didalam ruangan dan kegiatan melihat dekat (memebaca, menonton jarak 1 meter), menulis, menggunakan komputer, melihat handphone, dll)  yang berlebihan memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami miopia.

Banyak penelitian yang menghubungkan aktifitas melihat dekat yang berlebihan berhubungan dengan bertambahnya panjang aksial bola mata.oleh karena itu aktifitas melihat dekat dijadikan sebagai faktor risiko bertambahnya ukuran miopia.

Ada beberapa penelitian menyatakan bahwa tidak memberikan kaca mata pada pasien miopia mengurangi penambahan ukuran miopia nya (mengurangi progresivitas miopia). Namun angka yang didapat penelitian tersebut tidak signifikan. Pada penelitian lain miopia yang tidak diberi kaca mata bahkan mempercepat penambah ukuran. Organisasi kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan untuk pasien dengan miopia harus tetap diberikan kaca mata.

Selama ini belum ada penelitian mengenai aktifitas, terapi obat-obatan untuk mengurangi ukuran minus, kecuali tindakan LASIK atau tindakan operasi. Ada beberapa obat, jenis kaca mata, lensa kontak khusus yang dapat mengontrol penambahan ukuran miopia. Namun masih belum digunakan secara luas di Indonesia.

Adapun beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mengontrol atau memperlambat penambahan ukuran miopia.

  1. Meningkatkan kegiatan di luar ruangan,
  2. Mengurangi kegiatan melihat dekat yang tidak terlalu dibutuhkan,
  3. Pastikan membaca jarak 30 cm, pastikan jarak mata dengan layar monitor 50 cm,
  4. Selalu berada dalam pencahayaaan yang cukup saat beraktifitas (terutama beraktifitas melihat dekat),
  5. Istirahatkan mata setelah melakukan kegiatan melihat dekat selama 20 menit istirahatkan selama 20 detik atau 30-40 menit istirahatkan selama 3-5 Istirahatkan dengan cara melihat objek keluar jendela yang jaraknya lebih dari 6 meter atau menutup kedua mata dengan telapak tangan jangan sampai menekan bagian mata. Jangan lupa berkedip saat beraktifitas melihat dekat.
  6. Makan makanan yang bergizi

Klasifikasi Miopia (WHO)

Miopia < -5 dioptri

Miopia tinggi (High Miopia) > -5dioptri

Miopia patologis : perubahan abnormal dari retina

Jika sudah mencapai high miopia lebih baik secara rutin memeriksakan mata ke dokter setiap 6 bulan sampai dengan 1 tahun karena berisiko menjadi Miopia patologis atau lepasnya retina mata.

B. Hipermetropia ( Kelainan Kaca Mata PLUS)

Pasien dengan Hipermetropia membutuhkan kacamata Plus baik melihat jauh maupun melihat dekat. Pada pasien dengan hipermetropia sistem mata menempatkan bayangan berada dibelakang retina. Hal ini disebabkan oleh kelengkungan kornea atau lensa yang kurang (terlalu datar) atau panjang aksial bola mata terlalu pendek dari orang normal.

Pasien dengan hipermetropia matanya akan cepat lelah. Keadaan dimaan mata lelah mata akan terasa nyeri atau pegal dan mengeluarkan air mata bahkan pandangan bisa menjadi ganda. Faktor risiko terjadinya hipermetropia adalah genetik (bawaan) dan faktor usia.

C. Astigmatisma atau Kelainan Kaca Mata Silindris

Astigmatisma merupakan kelainan kaca mata yang diakibatkan bentuk permukaan lensa atau kornea yang tidak bulat sempurna, ada beberapa kelengkunagn kornea atau lensa hanya dibeberapa tempat saja. Normalnya kelengkungan kornea atau lensa  disemua permukaan sama. Terkadang  Hal ini disebabkan faktor genetik , faktor luar seperti penyakit atau bekas luka pada kornea mata atau penyakit pada lensa mata, atau dapat juga karena faktor usia yang dapat mengubah bentuk lensa mata. Orang dewasa dengan kelainan astigmatisma terkadang kurang dapat beradaptasi dengan lensa silindris dibandingkan dengan anak-anak.

Karena normalnya ada proses akomodasi (memfokuskan bayangan pada saat melihat dekat) dan faktor usia yang dapat merubah bentuk lensa pada mata kita  yang mengakibatkan perubahan kelengkungan lensa, terkadang ukuran silndris dapat berubah-ubah pada saat pengkuran kaca mata.

KESIMPULAN

Semua kelainan kacamata diakibatkan struktur dan bentuk mata yaitu kelengkungan kornea, kelengkungan lensa dan panjang bola mata, sehingga sistem mata menghasilkan bayangan tidak ditempatkan tepat di Retina, sehingga proses I terganggu, retina tidak mendapatkan stimulus yang cukup untuk dirubah enjadi sinyal elektrik yang akan diteruskan oleh saraf optikus menuju otak.

Penyebab utama kelainan miopia dan hipermetropia adalah panjang bola mata. Sedangkan Kelainan astigmatisam adalah bentuk kelengkungan kornea dan lensa.  Faktor risiko hal tersebut utamanya terjadi karena faktor genetik. Belum ada obat-obatan atau makanan yang dapat memanjangkan dan memperpendek panjang bola mata, serta merubah kelengkungan kornea atau kelengkungan bentuk lensa. Namun kelainan kaca mata dapat dibantu dengan Kaca mata, Lensa kontak, maupun tindakan LASIK atau operasi agar penglihatan menjadi lebih jelas.

 

REFERENSI

  1. https://www.researchgate.net/figure/Phototransduction-cascade-see-text_fig4_7137603
  2. https://en.wikipedia.org/wiki/Visual_phototransduction
  3. https://www.aoa.org/patients-and-public/eye-and-vision-problems/glossary-of-eye-and-vision-conditions/myopia
  4. https://www.researchgate.net/figure/Human-Visual-Pathway_fig4_281446335
  5. https://www.brainhq.com/brain-resources/cool-brain-facts-myths/how-vision-works/
  6. https://www.allaboutvision.com/eye-exam/refraction.htm
  7. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC5980758/pdf/nihms954993.pdf
  8. Tedja et al. Natgenet. Genome-wide association meta-analysis highlights light-induced. Author Manuscript. Pub Med Central. 2018

Penulis dr. Serisa Irilla, Sp.M

Leave A Comment

Please enter your name. Please enter an valid email address. Please enter message.

You may also like